Jumat, 20 Februari 2009

maret '09

Opini

KAMPANYE GAYA BARU

(Mestinya) ada yang berbeda dari kampanye pemilu 2009. Bukan apa-apa mulai juli 2008, tahapan pemilu sudah masuk jadwal kampanye parpol. Ya, tak kurang selama 8 bulan , parpol peserta pemilu akan melangsungkan kampanye dialogis menyampaikan visi, misi dan platform masing-masing.

Sebenarnya, sudah sejak lama kita ingin menikmati bentuk kampanye yang lebih berkualitas. Lebih dari pengerahan massa yang hanya diisi hiburan-hiburan sesaat. Bukankah bentuk kampanye demikian cenderung membodohkan masyarakat pemilih, atau setidaknya nihil pendidikan politik. Sebab rakyat tidak diajak menyadari secara sistemik apa dan bagaimana yang bisa mereka dapatkan dari memilih parpol tertentu. Lebih jauh lagi, daya pikir dan rasa rakyat sengaja dibungkam dengan hiburan melenakan yang lebih bernilai “pelarian” dari berbagai masalah hidup keseharian.

Pilkada Jabar yang masih hangat dalam ingatan sepatutnya dapat dijadikan contoh. Lihat saja bagaimana pasangan yang seolah-olah terlihat sukses mengumpulkan massa dalam jumlah besar sembari mendatangkan artis-artis penghibur, justru eleh dalam hasil akhir. Ungkapan It’s the voters, stupid! Tentu perlu dikaji lebih jauh.

Bahwa pemilih sebenarnya bisa didekati dengan cara yang jauh lebih cerdas, cara yang jauh lebih menghargai nalar dan naluri mereka. Misalnya dengan mendatangi secara langsung dalam komunikasi dua arah. Belum lagi kualitas debat publik yang dihadirkan oleh masing-masing pasangan. Semakin terlihat siapa sebenarnya pemimpin yang mampu menyampaikan ide, visi, dan misi secara matang, organisasi yang baik, dan mampu meyakinkan publik.

Tak hanya itu, bias pencitraan politik pun bisa terkikis habis dengan adanya kampanye dialogis. Iklan bisa saja berlantang dalam semu, tapi akan kecil bahkan nilai porsi esensinya kalau dibandingkan tanya jawab dan pendalaman seksama.

Kita bisa mengingat tayangan di salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu lalu. Tersanding di layar kaca, dua pola kampanye di Indonesia dan AS. Di sebelah layar, tampil para jurkam parpol Indonesia termasuk pemimpin tinggi partai yang sedikit cuap-cuap dan malah didominasi hiburan musik, joget dsb. Sedangkan di sebelah layar lagi, tampak Barrack Obama dan Hillary Clinton tengah berorasi dengan cerdasnya di hadapan audiens.

Di Malaysia, negara jiran yang disebut media sedang mengalami transisi demokrasi dengan “kekalahan” telak Barisan Nasional (BN), pola kampanyenya ternyata masih jauh lebih baik. Seperti dilaporkan Antara (19/03/08) dengan subtajuk “no dance on stage”, pengumpulan massa di lapangan, kafe, toko, dan door to door, dilakukan benar-benar untuk penerangan program-program kerja nyata.

Bisa saja kita beranggapan bahwa tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat Amerika dan Malaysia lebih baik daripada Indonesia. Tapi sikap seperti itu tentu kurang memberi semangat perubahan positif dan malah hanya memperlambat perbaikan bangsa.

Teladan

PEJUANG ISLAM, ZAINAB AL-GHAZALI

Da’i dan aktivis terkemuka Zainab Al-Ghazali, wafat dalam usia 88 tahun, meninggalkan kenangan yang tak terlupakan sepanjang aktivitasnya menjalankan dakwah Islam. Al-Ghazali lahir di wilayah Al-Bihira, Mesir pada 1917, ia merupakan keturunan dari kalifah kedua Islam, Umar bin Khattab dan Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Sejak usia yang masih sangat muda, 10 tahun, Al-Ghazali sudah memperlihatkan kepandaiannya dan kelancarannya dalam berbicara. Sepanjang hidupnya, ia membentuk dirinya sebagai orang yang berhasil belajar secara otodidak. Ambisinya yang kuat dan tekadnya yang membara, membuatnya maju untuk mencapai jenjang pendidikan di saat kaum wanita pada saat itu jarang yang mengenyam pendidikan kalau tidak dikatakan tabu..

Al-Ghazali selalu berusaha mengedepankan masalah keseimbangan antara hal-hal yang bersifat relijius dan modern. Ia mendapat pendidikan agama pertama kali dari cendekiawan muslim terkemuka di Al-Azhar, Syeikh Ali Mahfuz dan Muhammad Al-Naggar.

Dalam usia yang relatif masih muda, Al-Ghazali sudah aktif sebagai anggota Persatuan Kelompok Feminis Mesir yang didirikan oleh Huda Sharawi pada 1923. di usia 20 tahun, pada tahun 1937, Al-Ghazali mendirikan Asosiasi Wanita Muslim untuk mengorganisir kegiatan-kegiatan kaum perempuan yang sesuai norma-norma Islam dan ditujukan untuk kepentingan-kepentingan Islam.

Al-Ghazali mengundurkan diri dari organisasi pimpinan Huda Sharawi karena ketidaksetujuannya dengan ide-ide sekular tentang gerakan pembebasan perempuan. Meski demikian, Al-Ghazali tetap menghormati Sharawi dan menyebutnya sebagai seorang wanita yang memiliki komitmen dan keimanan yang baik.

Tidak lama setelah ia mendirikan Asosiasi Wanita Muslim, Al-Ghazali langsung melakukan sejumlah aksi dan mendapatkan dukungan dari menteri waqaf untuk mendirikan 15 masjid dan belasan masjid lainnya yang dibiayai oleh masyarakat umum.

Asosiasi yang didirikannya melahirkan generasi da’i-da’i wanita yang mempertahankan status perempuan dalam Islam serta meyakini bahwa agama mereka memberikan peluang sebesar-besarnya bagi kaum perempuan untuk memainkan peranan penting di tengah masyarakat, memiliki pekerjaan, masuk ke dunia politik dan bebas mengeluarkan pendapatnya.

Al-Ghazali banyak dipengaruhi oleh pendiri Ikhwanul Muslimin, Syaikh Hasan Al-Banna. Ia memegang teguh pandangannya bahwa tidak ada konflik antara agama dan politik. Al-Ghazali adalah orang yang lantang mempertahankan syariah dan kerap menghadapi masalah dengan rejim Mesir pada saat itu. Presiden Gamal Abdul Naser. Penjara dan siksaan, tidak pernah mematahkan tekadnya bahkan membuatnya lebih kuat. Al-Ghazali meninggalkan warisan berupa perjuangan membela Islam dan reputasinya sebagai aktivis perempuan yang tanpa ragu melawan sekularisme dan liberalisme dan menggantikannya dengan nilai-nilai Islam.


DOKTER ISRAEL PENCURI

Israel tidak hanya mencuri tanah bangsa Palestina, tapi juga mencuri organ penting jenazah anak Palestina. Hal ini diakui sendiri secara diam-diam oleh Israel bahwa dokter-dokter forensik Israel di Abu Kabir telah mencuri organ-organ vital tiga anak Palestina yang dibunuh Israel. Menteri kesehatan Israel, Nessim Dahlan, tidak membantah bahwa organ vital tersebut diambil untuk transplantasi dan penelitian ilmah.

Memang sudah menjadi kebiasaan tentara Israel unuk menahan jenazah orang-orang Palestina yang syahid tanpa penjelasan apapun. Tiga anak Palestina yang berusia 14-15 tahun tersebut dikembalikan jenazahnya dalam keadaan rusak parah. Petugas paramedis menemukan bekas-bekas penganiayaan berat dan beberapa organ penting telah hlang.

Liputan

KASMARAN

Judul tersebut di atas bukanlah merupakan judul sebuah lagu atau film. Namun tajuk dari sebuah acara talk show ta’lim gabungan, yang diselenggarakan oleh Majlis Ta’lim Keadilan asuhan Ibu Sri Maryatun S.Pd atau Bidang kewanitaan DPC PKS kecamatan Gunung Putri, Bogor.

Akronim dari Kasih Sayang Mengikat Antara Ibu dan Anak ini merupakan acara yang digelar pada tanggal 7 Pebruari 2009 di balai desa Tlajung Gunung Putri. Acara ini dihadiri oleh kurang lebih 70 ibu-ibu majlis ta’lim yang tersebar di kecamatan Gunung Putri.

Dengan menampilkan pembicara yang sudah sangat familiar di kalangan ibu-ibu majlis ta’lim, yaitu Ustadz Sofyan Tsauri Lc dan Ibu Iin Suprihatin. Acara ini semakin seru ketika sesi tanya jawab berlangsung. Jawaban yang diberikan oleh nara sumber semakin menambah antusias para peserta untuk bertanya lebih jauh tentang hubungan keluarga yang harmonis. Bukan saja antara ibu dan anak, tapi juga antara ibu, ayah, dan anak.

Di sela-sela acara, Ustadz Sofyan sempat meminta kepada semua peserta dan panitia untuk menundukkan kepala dalam-dalam. Tanpa bersuara. Hening. Kemudian membayangkan wajah keriput orang tua kita. Membayangkan sikap dan perilaku kita terhadap orang tua selama ini. Membayangkan apa yang telah kita berikan pada mereka. Begitu dalam, hingga tak terasa butiran bening menetes di setiap pipi para peserta.

Acara talk show ini juga dimeriahkan dengan penampilan group qosidah dari ibu-ibu majlis ta’lim Griya Bukit Jaya. Dan di penghujng acara panitia memberikan hadiah bagi 3 peserta terbaik.

Kisah

BUTET

Tak banyak yang tahu nama aslinya. Saat ditanyapun dia malu. Ia menjawab, “Sudah, panggil saja saya Butet, Mbak.”

Tidak lagi bisa dibilang sederhana. Kumuh malah. Penampilan yana seadanya, apalagi rumah yang lebih tepat disebut gubuk. Sangat tak layak sebenarnya dihuni satu keluarga dengan empat orang anak.

Terbuat dari tembok rapuh dan kayu-kayu bekas yang sudah rusak sana-sini. Terdiri dari satu ruang untuk tidur dan kumpul-kumpul keluarga, ukuran tak lebih tiga kali tiga meter.

Sampingnya adalah dapur yang tak lagi utuh tertutup, dan di belakang rumah yang persis menghadap jurang. Dulu pernah ada tersisa secuil ruang di belakang itu, tapi longsor telah merenggutnya berikut semua perabotan. “Jika hujan deras, anak-anak saya suruh ke lebak di rumah neneknya. Takut longsor lagi.” Dan pernah sekali, tengah malam hujan lebat, “kafilah kecil” itu mengungsi di tengah lelapnya para tetangga di kasur empuknya.

Butet. Sebenarnya ia berwajah manis. Full smile, ramah, ceria, dan energik. Menggelar dagangan sayur –mayur setiap hari di depan gubuknya. Selalu ramai di pagi hari karena pelanggan setia. Seperti orang Batak lainnya, jualannya tergolong lebih murah. Meski logat dan kadang suaranya bernada tinggi, Butet satu ini begitu penyabar dan sangat mengalah.

Bagaimana tidak? Seiring ibu-ibu aghniya masih juga tega menawar. Ada yang mengambil sendiri barang yang dibeli dan menentukan harga dengan paksa. Padahal ia sendiri sehari-hari hanya makan sisa dari warung. Lebih sering teri dan oncom saja. Maka wajar jika pedagang kecil itu utangnya lebih dari tiga juta di pasar, demi usahanya tetap berjalan.

Lalu dari mana ia menyerap energi untuk tetap bisa survive? Dan keempat anaknya bisa terus sekolah? Sempatkan untuk sekedar menyapa, dan jika ada waktu berbincanglah dengannya. Maka anda akan dibuat takjub.

Ia mengawali hari jam satu atau dua dini hari. Telah rapi ia untuk segera menyambut mobil jemputan ke pasar. Sebelumnya telah ia sempatkan untuk sholat malam.

Sering pembeli kecewa karena kadang ada saja belanjaan yang tertinggal di pasar. Saat ditanya, kenapa? “Saya ngejar sholat subuh mbak, takut telat.”

Shaum sunnah sudah biasa buatnya. Ahad, tetap ia paksakan untuk pergi mengaji bersama ibu-ibu lainnya. Habis maghrib adalah perjuangan berat baginya melawan kantuk. Maka usai sholat mukena tak kan ia lepas sebelm isya ia tunaikan. “Biar tidak kebablasan.” Jika di kampung ada pengajian, niscaya akan anda lihat ia rela begadang demi menghadirinya.

Betapa cintanya ia pada anak-anaknya. Sekolah adalah nomor satu. Dan suatu ketika pernah terlihat ia duduk terkantuk di pinggir jalan depan masjid Al-Banna, untuk menunggu bujangnya yang sulung, usai ngaji jam sembilan. “Dia pemalu. Kalau nggak ditungguin nggak mau datang.” Subhanallah.

Cerpen

GLOBAL WARMING

Tiga hari setelah berita itu disiarkan. Rapat umum pemerintah dengan para pengusaha di negeri ini digelar.

Suasana Graha Andhika, graha milik negara itu terasa hiruk-pikuk. Ramai sekali, hampir lima ratus orang hadir memenuhinya. Yang paling banyak tentunya dari kalangan wartawan. Masing-masing mereka telah menempati posisi strategis yang dirasa pas untuk mengambil gambar dan melakukan peliputan. Beberapa kru televise nasional tampak bergerombol di sudut ruangan. Pertemuan pemerintah dengan seluruh elemen bisnis di negeri ini akan membahas tentang penanganan global warming yang sedang menggejala di seluruh dunia. Tampaknya pihak protokoler kepresidenan sudah merencanakan acara itu dengan matang. Banyaknya peserta yang hadir, jga wartawan-wartawan itu, menunjukkan kalau pemberitahuan akan adanya pertemuan ini sudah dilakukan jauh-jauh hari.

Perlahan-lahan suasana menjadi tenang. Sepertinya acara akan segera dimulai. Dua orang berbaju militer tampak memeriksa meja yang ada di depan dengan posisi lebih tinggi dari yang lainnya. Tak lama kemudian, seorang dengan stelan jas abu-abu memasuki ruangan beserta dua orang yang mengiringinya. Aku tak kenal dengan dua orang di belakangnya. Tapi orang yang berjalan lebih dulu itu adalah presiden negeri ini. Presidenku juga. Walaupun aku merasa tak pernah ada kepentingan dengannya.

“Saudara-saudara yang berbahagia. Pada kesempatan ini kami selaku pemerintah menawarkan sebuah solusi jalan tengah bagi berkembangnya isu pemanasan global yang hampir merata di seluruh dunia. Satu hal yang ingin kami ajukan kepada Anda semua dalam forum ini adalah sebuah proposal tentang pendanaan reboisasi oleh selurh perusahaan di tanah air ini. Reboisasi ini akan kita pusatkan di dua kepulauan besar yang berada di sebelah utara dan barat tanah air kita. Karena jika dua pulau itu terjaga hutannya, maka akan memberikan dampak besar bagi iklim dunia. Saya kira ini penjelasan singkatnya. Saya berharap pada forum ini kita bisa menyepakatinya bersama.” Lelaki tampan dengan postur tinggi besar itu duduk penuh wibawa di meja depan. Ialah presiden bagi sekitar tujuh ratus penduduk negeri ini.

Ada yang mau menanggapinya atau bertanya, saya persilahkan.” Lanjutnya masih dengan intonasi suara yang penuh ketegasan.

Tiba-tiba satu orang dari kami berdiri. Sambil berusaha tenang, walaupun dari gelagatnya menandakan ia sedang gelisah. “Pak Presidan, saya kira reboisasi sudah merupakan program dari Kementerian Kehutanan di cabinet yang anda pimpin. Jadi saya pikir untuk pendanaan berasal dari APBN yang merupakan hasil pajak masyarakat negeri ini. Termasuk di dalamnya adalah pajak usaha kami.”

“Betul, Pak Presiden. Bapak jangan mengemis-ngemis kepada kami. Toh kami telah membantu program pengentasan kemiskinan melalui yayasan-yayasan social yang kami bentuk. Jangan masalah ini dibebankan kepada kami saja.” sahut yang di sebelahnya.

“Bagi perusahaan kami tak masalah jika harus mengeluarkan dana itu. Tapi sebelumnya kami minta kejelasan nominal dana yang harus kami himpun. Dan kami juga mengharapkan nominal dana ini sama untuk seluruh perusahaan di tanah air ini tanpa terkecuali.”, seorang yang duduk hampir paling belakang itu muncul dengan pernyataannya yang tidak pernah kami duga-duga sebelumnya.

Tips

6 CARA MENGHEMAT UANG

  1. Pilih makanan segar. Beli kebutuhan makan minum dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari di toko yang menawarkan harga bersaing. Beli pula makanan segar karena akan lebih murah dibandingkan makanan yang telah diawetkan. Bila anda mau dan sempat, siapkan bekal makan anda, suami, dan anak-anak setiap hari. Biayanya akan lebih murah.
  2. Teliti membeli pakaian. Belilah pakaian bila anda, suami atau anak memang benar-benar membutuhkannya. Sempatkanlah membeli pakaian pada saat obral, bila teliti biasanya anda dapatkan yang baik.
  3. Hemat listrik. Slogan hemat energi hemat biaya, pasti sering anda dengar. Akan lebih baik bila hal ini anda praktekkan. Matikan lampu bila tidak digunakan.
  4. Jadilah anggota perpustakaan. Di samping memiliki perpustakaan pribadi, tentunya perlu juga memiliki keanggotaan pada perpustakaan umum.
  5. Kuasailah suatu keterampilan. Memiliki suatu keterampilan, apakah itu menjahit, memotong rambut, akan sangat bermanfaat dan menghemat dalam biaya pengeluaran. Bahkan di saat ini keterampilan menulis, mengetik dan computer menjadi sangat penting di tengah arus globalisasi informasi.
  6. Menabunglah. Menabung akan menimbulkan rasa aman. Bila saatnya anda harus membayar segala tagihan, pertama-tama sisihkan dulu untuk menabung.


Konon, pemicu terbesar yang membuat Israel menyerang Palestina adalah ketakutan Israel yang luar biasa ketika mengetahui Ismail Haniya baru saja mewisuda 350 anak di bawah 10 tahun yang hafidz Qur’an. Kengerian bangsa kera itu semakin menjadi-jadi ketika memahami bahwa Palestina adalah satu-satunya Negara di kawasan Timur Tengah yang telah menghasilkan hafidz dan hafidzah terbanyak. Mengalahkan Arab, Mesir, Iran, Irak, dan kawasan Teluk lainnya.

Siapakah dalang yang menggerakkan ruh Palestina sedemikian rupa sehingga mereka menjelma menjadi bangsa dengan izzah yang begitu mulia? Dialah HAMAS (Haraqah Al-Muqawwamah Al-Islamiyah). Satu-satunya gerakan di dunia ini yang berani melawan Israel adalah HAMAS.

Seorang kawan yang sedang berada di Gaza dalam rangka misi kemanusiaan menyatakan, penduduk Gaza hampir seluruhnya ditarbiyah oleh HAMAS. Mereka sangat bangga dengan tanah jihad ini. “Tak ada ketakutan sama sekali terhadap Israel,” tulis kawan saya melalui email. “Indonesia boleh punya uang, tapi kami punya tanah jihad yang memberi kami kesempatan berada di garis terdepan dalam merebut Al-Quds.” Begitulah ungkapan penduduk Gaza yang ditirukan oleh kawan saya. Ia juga bercerita, ada seorang kharismatik di Masjid Abbas, tempat kawan saya biasa sholat. Imam muda itu berumur 22 tahun, wajahnya mempesona, alunan suaranya membius, dan percaya atau tidak, ia adalah seorang Insinyur Sipil (Civil Engineer).

Pembaca yang dirahmati Allah, jika mayoritas penduduk Gaza hafidz dan berpendidikan tinggi (well educated), serta memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mati syahid, lalu bagaimana dengan kita? Sudah berapa banyak hafalan Al-Qur’an kita dan sedalam apa kita telah berkontribusi dalam gerakan dakwah di Indonesia?

0 komentar: